Langsung ke konten utama

Ide Main: 4 Aktivitas Bermain yang Bisa Menstimulasi Kemampuan Motorik, Sensorik dan Kognitif Anak.


Pada postingan yang lalu, telah dipaparkan apa urgensi stimulasi sensorik, motorik dan kognitif pada anak usia dini. Mempertimbangkan manfaat besar yang akan kita dapatkan, maka sebagai ibu, kita wajib memfasilitasi aktivitas yang bisa menunjang kebutuhan ananda dalam menstimulasi ketiga elemen tersebut.

Ada banyak ide bermain yang bisa kita kembangkan, dengan menyesuaikan minat, bakat dan usia anak tentu saja.

Intinya, setiap aktivitas main yang akan mereka lakukan, haruslah sesuatu yang memang mereka sukai, nikmati dan lalui dengan perasaan bahagia. Jangan sampai, demi memenuhi ambisi menstimulasi kemampuan motorik, sensorik dan kognitif tersebut, kita memaksakan suatu aktivitas yang justru bikin anak bete dan tak nyaman.

Tugas kita hanya memfasilitasi kebutuhan dan keinginannya, sekaligus mengarahkan, agar proses bermain bisa lebih dioptimalkan kemanfaatannya. Namun, tidak dengan memaksakan kehendak pada anak. 

Misalnya, kita sudah capek-capek menyiapkan permainan yang kita anggap seru untuk dilakukan, dengan berpedoman pada stimulasi ketiga elemen tadi, namun anak justru tidak tertarik. Permainan yang sudah kita konsep ditinggalkan, si anak malah melakukan aktivitas main sesuai moodnya.

Pada kondisi seperti ini, tugas kita adalah membiarkan ia melakukan aktivitas tersebut, jangan paksa untuk beralih pada aktivitas yang sudah kita konsep. Namun, tetap kita arahkan, agar proses bermain tetap mengandung esensi pembelajaran yang dibutuhkan. Jika memungkinkan, perlahan kita bisa kok mengkondisikan, agar anak mau melakukan aktivitas yang kita siapkan. Buat dia nyaman terlebih dahulu, bukan dengan memaksa.

Banyak aktivitas bermain sehari-hari yang mungkin tidak kita sadari, justru lewat permainan tersebut, si anak sedang mengembangkan kemampuan sensorik, motorik dan kognitif secara bersamaan. Terkadang ekspektasi kita terlalu tinggi, niatnya ingin ATM permainan yang tampak kece dan seru dari internet, namun ternyata anak kita tidak berminat.

Tak mengapa. Kita manfaatkan saja setiap momen untuk memaksimalkan kemanfaatannya.

Nah, berikut adalah beberapa contoh aktivitas sehari-hari yang semoga bisa menjadi salah satu referensi bunda dan si kecil di rumah.

Membuat wayang

Si sulung memang sedang tertarik sekali dengan unsur dinosaurus. Hal ini yang kemudian membuat dia bersemangat mengajak saya untuk membuat wayang dinosaurus. 

Saya tidak melarang, namun mencoba memfasilitasi saja. Karena tidak dipaksa dan atas kemauan sendiri, aktivitas bermain pun berlangsung cukup lama. Rupanya dia menikmati dan betah melakukannya. Kegiatan menggunting, yang biasanya bikin dia frustasi, malah dilakukan dengan penuh semangat.

Nah, bunda bisa menyesuaikan gambarnya dengan apapun yang memang sedang diminati ananda. 


Aktvitas bermain: membuat wayang

Bahan yang diperlukan: kertas, pensil, gunting, stik es krim dan lem.

Cara bermain: Biarkan ananda menggambar apapun sesuai minatnya. Minta ia menggunting, kemudian tempel pada stik dengan lem. Selesai.

Unsur yang terstimulasi:
Sensorik: visual, auditori, peraba
Motorik halus: menggenggam saat menulis, koordinasi mata dan tangan, menggunting, menempel
Kognitif: menulis (menganalisis bentuk huruf, bentuk gambar)


Bermain lego

Nah, permainan ini tentu tidak asing ya, Bun. Ada beragam jenis lego atau permainan sejenis yang bisa ananda mainkan.

Lewat permainan lego sekalipun, rupanya kita bisa mendapatkan banyak manfaatnya. Hanya dengan menyusun kepingan lego ini saja, banyak area sensorik dan motorik bahkan area kognitif anak yang terstimulasi dengan baik.


Aktivitas bermain: bermain lego

Bahan yang diperlukan : mainan lego

Cara bermain: biarkan anak berkreasi dengan legonya, beri dia kesempatan penuh untuk menuangkan imajinasinya tanpa banyak instruksi yang bisa mendistraksi. Lihatlah, bahkan mereka bisa menghasilkan bentuk-bentuk imajinasi yang melebihi ekspektasi. Luar biasa, bukan? Setelah selesai membuat suatu bentuk, bunda bisa memancingnya dengan pertanyaan, agar ia menceritakan apa sih sedang ananda buat. 

Dengan ini, anak sekaligus berlatih tentang komunikasi. Mendeskripsikan benda empat dimensi dalam bentuk narasi atau kata-kata.

Unsur yang terstimulasi:
Sensorik: visual: warna, bentuk, auditori, taktil, 
Motorik: mengambil, memasang, menyusun. 
Kognitif: menganalisis bentuk, berimajinasi

Membuat lava lamp

Satu lagi permainan eksperimen sederhana yang seru dan menyenangkan, yaitu membuat lava lamp.


Aktivitas bermain: membuat lava lamp

Bahan yang diperlukan:
Wadah kaca atau plastik bening, air, minyak goreng, pewarna makanan, tablet effervescent

Cara bermain:
Siapkan bahan yang diperlukan. Ajak anak untuk menyebutkan bahan apa saja yang dipakai. Dalam setiap step, ajak anak untuk menganalisis proses dan hasilnya.

Step pertama, kita siapkan wadah bening, minta anak untuk menuangkan air hingga sepertiga bagian, kemudian masukkan minyak hingga agak penuh. Amati apa yang terjadi?
Teteskan pewarna makanan secukupnya, amati, apa yang terjadi?
Masukkan tablet effervescent, amati yang terjadi.

Unsur yang terstimulasi:
Sensorik: visual, auditori, olfactori, peraba, keseimbangan, persendian
Motorik: menjimpit, menuang, mengaduk, berjalan, melompat, koordinasi mata dan tangan
Kognitif: menganalisis proses 

Mencampur warna

Ini jenis mainan yang paling digemari duo krucil, bermain air sambil bereksperimen tentang warna. 


Aktivitas Bermain: Mencampur warna

Bahan yang diperlukan: 
Siapkan tabung reaksi/ botol bekas atau wadah lainnya.
Pipet
Pewarna makanan
Air

Cara main:
Tuang air pada beberapa wadah masing masing wadah ditambahkan pewarna makanan.
Ambil salah satu warna emnggunakan pipet, taruh dalam wadah. Tambahakan warna lain dengan cara yang sama. Amati, warna apa yang terbentuk.

Unsur yang terstimulasi:
Sensorik: auditori, visual, taktil
Motorik: melatih otot kecil saat menggunakn pipet, mmenuang air, mengangkat botol, memindahkan tabung reaksi
Kognitif: analisis warna, menambah kosakata

Wah, ternyata, menstimulasi kemampuan sensoril, motorik dan kognitif itu tidak sesulit yang dibayangkan, ya. Bahkan dalam kegiatan sehari-haripun sebenarnya ananada mendapatkan stimulasi ketiga unsur tersebut, misalnya ketika makan sendiri, menyuap, menyendok makanan, mengunyah, menjimpit makanan, merasakan panas atau dingin makanan yang dipegang, mencium aroma masakan, menelan makanan, dan sebagainya.

Lihat, dari kegiatan makan saja, kita sudah bisa menstimulasi ketiga unsur tersebut. Itulah mengapa, melatihkan ananda untuk makan sendiri, memilihkan tekstur makanan yang beragam dan mengenalkan jenis makanan yang bervariasi merupakan bagian dari upaya untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

Semoga bermanfaat. 🙏



#nonfiksiOdop7
#Day21

Terima kasih sudah berkunjung, boleh jejak di kolom komentar ya jika berkenan. 🙏😊

Komentar

  1. Ternyata banyak cara menstimulus kreativitas anak ya, mbak.. makasih sudah kasih ide buatku yg faqir ide ini^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[DIY] Tiga Kreasi Mainan Edukasi Berbahan Flanel

Ketika menjadi Ibu, secara otomatis kita dituntut untuk lebih kreatif demi terselenggaranya pendidikan dan pengasuhan anak yang menyenangkan.  Kita dituntut untuk cakap berinovasi, menciptakan permaianan, ataupun kegiatan yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus membuat mereka merasa nyaman dan antusias. Sebagai Ibu, tentu saja kita menginginkan yang terbaik untuk buah hati kita. Adakalanya kita yang dulunya "malas", "tidak cakap", dan cuek tetiba harus menjadi seseorang yang baru, yang menguasai apapun secara otodidak. Hanya karena tekad yang kuat, menjadikan kita teguh memperjuangkan itu semua, sebagai bentuk tanggung jawab dan kewajiban hakiki sebagai madrasah utama bagi buah hati tercinta. Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit berbagi tentang apa yang bisa kita kreasikan untuk membuat media bermain yang menyenangkan sekaligus "mencerdaskan" yang bisa kita buat secara mandiri, alias DIY (Do It Yourself) . Berikut beberapa cont

Mengenalkan Literasi Sejak Dini Lewat Program 'Duta Baca Cilik'

Sejak tujuh hari yang lalu, saya telah mendaftarkan Abang dalam kegiatan literasi bertajuk 'Duta Baca Cilik' yang infonya saya dapatkan melalui sebuah postingan di Facebook.  Begitu membaca, saya langsung tertarik untuk ikut serta, walaupun saya belum yakin, apakah bisa konsisten mengikuti rule yang diberlakukan, karena kebetulan pada saat yang bersamaan, saya sedang memegang banyak amanah yang harus ditunaikan. Namun, demi menemukan kembali ritme kebersamaan bersama duo krucil, saya pun 'menerima' tantangan ini. Dan, sejak Senin lalu, resmilah kami sebagai bagian dari peserta 'Duta Baca Cilik'. Sebuah kegiatan literasi, dimana, kami, para peserta, diwajibkan untuk membaca atau membacakan buku setiap hari.  Sebuah gerakan, yang memiliki tujuan untuk saling mendukung dan memotivasi para Ibunda dalam mengenalkan literasi sejak dini dengan pembiasaan membaca / membacakan buku setiap hari kepada buah hatinya. Bagi saya, ini kesempatan em

Menggali Potensi Diri dengan Menulis Antologi

Pict: Pixabay Bismillahirrohmaanirrohiim... Tahun ini adalah tahunnya panen buku antologi. Huaaa... ini bahagianya campur-campur sih. Antara senang tapi gemes, soalnya perbukuan ini kok ya launchingnya hampir berbarengan... *kekepindompet Terlepas dari itu, ya pastinya saya sangat bersyukur dong, sekaligus bangga, ternyata saya bisa mengalahkan bisik ketakutan dalam diri yang merasa tak mampu, malas hingga cemas. Bisa nggak ya? Bagus nggak ya? Laku nggak ya? *ups Sebenarnya, dari awal, tujuan saya ikut berkontribusi dalam even nulis buku bareng ini, hanya karena ingin punya karya, yang kelak bisa juga membuat saya, setidaknya merasa bangga dan bersyukur pernah berkontribusi dalam membagikan kemanfaatan dari apa yang saya miliki.  Entah pengetahuan walau cuma seuprit, atau pengalaman yang baru seumur jagung, atau sekedar curahan hati yang bisa diambil hikmahnya oleh yang membaca. *semoga 🤲 Makanya, saat launching buku, saya tidak ngoyo untuk promosi. Atau mung