Postingan

Lintang, Sang Penghibur

Gambar
Hai namaku Lintang.  Ini kisahku dengan seseorang yang sangat aku sayangi...
Orang-orang mengenalnya sebagai penemu alat pembunuh kanker yang kini sedang menjadi pembicaraan banyak kalangan. Katanya dia bergelar Profesor Doktor.
Tapi ia memperkenalkan diri sebagai 'War' padaku saat kita pertama kali berbincang.
Karena kupikir ia terlihat sangat dewasa, dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya, memberi kesan begitu 'pintar', maka kuputuskan untuk memanggilnya "Papi War".
Namun, tahukah kalian, pertemuan pertama kali dengannya adalah ketika ia sedang menunggu bus di salah satu halte. 
Ia terlihat basah kuyup. Memang hari itu hujan deras tengah mengguyur kota. 
Aku terduduk lemas di sampingnya, menatap jalanan yang mulai tergenang air hujan. Sekilas ia menoleh padaku. Akupun menoleh padanya. Namun dia hanya diam saja.
Akhirnya kuberanikan diri saja mengajak dia bicara terlebih dulu. Awalnya ia cuek saja. Tapi lama lama, pergerakan kakiku mencuri perha…

Berjuta Kisah Si "Aluminium"

Gambar
Warsito terlahir sebagai anak dari pasangan Purwo Taruno dan Rubiyah pada tanggal 15 Mei 1967. Ia merupakan anak ke lima dari tujuh bersaudara.
Ia menikmati masa kecilnya hingga jelang SMA di desa Ploso Lor. Keluarganya bukanlah orang berada, ayahnya hanya bekerja sebagai petani. Kehidupan masa kecilnya dihiasi dengan keprihatinan. Namun, itulah yang kelak mengantarkannya pada kebrhasilan. Ia berjiwa pejuang, pantang menyerah namun berhati lembut. Ia mudah bersimpati dan berempati. Selalu memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. 
Tercatat sebagai murid di SD plosorejo 1 selama enam tahun, hingga dinyatakan lulus dan mendapat STTB pada tanggal 30 Juni 1980. Kemudian melanjutkan sekolah di SMP 1 Matesih yang ditamatkan pada tahun 1983. Warsito remaja memiliki watak yang pendiam dan tidak neko neko.
Warsito melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Karanganyar, yang merupakan sekolah favorit pada masanya. Ia berhasil lulus dengan prestasi yang membanggakan, mendapati predikat  sebagai…

Prosa Liris: Kutanya Cinta, Kau Jawab Hampa?

Gambar
Sudah lebih dua purnama, Engkau menjauh. Tak lagi dapat ku gapai sosokmu yang dahulu begitu mencinta, namun kini hanya hampa kurasa. 
Genggaman tanganmu sudah tak lagi erat menjerat. Engkau yang dulu merangkul lembut disaat sembab mataku oleh tangisan tanpa jeda, namun kini hanyalah murka yang kudapati. Engkau yang dahulu kerap mengalah demi melihat senyum mengulum dibibirku, kini hanya melenggang tak peduli. 
Kau begitu asik dengan duniamu sendiri, menatap layar lima inci dalam genggaman sepanjang hari. Menghabiskan sepanjang waktumu dengan hobi yang tak kupahami.
Aku tersudut dalam sepi. Merasa tersingkir dan begitu tak berarti. 
Apakah diriku sebegitu hina dalam pandangmu, hingga tak sekalipun kulihat binar mata dalam tatapmu?!?
Dan masih saja ku dapati tatapan jijik dalam kerlingmu. Aku yang kau anggap jorok, pemalas, tak bisa diandalkan, dan sederet label menyakitkan lainnya yang kau sematkan. Apakah bagimu aku hanya sekedar sosok penggenap statusmu?!? Tidak lebih! Yang kau beri reward…

Kaca Mata Ayah

Gambar
Ardi mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Hati anak laki-laki berusia sepuluh tahunan itu dipenuhi buncahan bahagia. Ia ingin segera tiba di rumah, sebelum ayahnya kembali pergi, merantau, bekerja mencari nafkah, agar ia dan adiknya bisa melanjutkan sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi.
Keringat mengucur, membasahi pelipis mata. Namun Ardi tak hendak berhenti, menepikan sejenak sepedanya, ia harus secepatnya tiba di rumah. Ia ingin mengabarkan langsung berita bahagia yang baru saja ia ketahui pada ayahnya. Sebelum ayah kembali ke kota.
"Ayah...!" teriak Ardi mengagetkan seisi rumah.

"Ada apa, Ardi?" Ibu tergopoh menghampiri Ardi.

"Ayah, mana, Bu?"

"Sedang mandi," ucap ibu seraya memicingkan mata ke arah kamar mandi. Ardi nampak tak sabar menunggu.

"Kenapa sih?" tanya ibu heran sekaligus penasaran.

Ardi hanya diam, sambil meremas kuat sesuatu di tangan. Ibu sekilas melirik genggaman tangan Ardi, "Apa itu, Nak?"

Takut-takut A…

Little Women: Petuah Kaya Gizi Berbalut Kisah Sederhana

Gambar
Judul buku: Little Women Author: Louisa May Alcott Penerjemah: Utti Setiawati Tebal: 436 halaman ISBN: 9786029225761 Penerbit: Qanita
Little Women adalah sebuah novel karya Louissa May Alcott, seorang penulis yang lahir di Germantown, Pennsylvania pada 29 November 1832.
Tokoh Jo March pada novel tersebut sangatlah mirip dengan karakternya yang tomboy semasa remaja. Seperti halnya Jo, ia pun memiliki tiga saudara perempuan.
Louissa telah menerbitkan lebih dari 30 karya semasa hidupnya. Ia meninggal pada 6 Maret 1888 dan dimakamkan di Sleepy Hollow, Concord.
Novel Little Women ini merupakan novel keluarga, yang berkisah tentang kehidupan bersahaja keluarga March.
Bagaimana peran seorang ibu ketika membersamai perjalanan dan petualangan ke empat gadisnya, ketika sang suami justru sedang bertugas membela negara di tempat yang jauh.
Ibu March yang tegar dan lembut sekaligus bijak telah berhasil menumbuhkan perilaku yang baik dan bermartabat pada keempat gadisnya.
Bet si lembut keibuan penyuka keanggun…