Postingan

Musik Klasik versus Musik Tradisional

Gambar
Judul film: Our Shinning Days (2017) Cast: Xu Lu (Chen Zing)Peng Yuchang (Li you)Luo Mingjie (Wang Wen) Asal film: China Genre: comedy romance Durasi: 103 menit
Beberapa bulan ke belakang, di newsfeed akun facebook saya muncul cuplikan sebuah film yang membuat jari saya tak kuasa menolak menekan tombol play. Benar kan, adegan yang terlihat kemudian membuat saya betah menonton sampai akhir. Menarik. Kata pertama yang terlintas di kepala. Sayangnya, saat itu saya tidak menemukan informasi lebih lanjut apa gerangan judul film tersebut. Ajaibnya, semalam, ketika iseng berselancar di platform youtube, tampaklah satu channel yang mempost sebuah film drama asia berjudul "Our shinning days" yang ternyata adalah versi full dari cuplikan adegan film di facebook. Kebetulan lagi di kelas fiksi odop ada tugas mereview film, pucuk dicinta ulam pun tiba. 
Film ini bergenre comedy romance. Berlatar dinsebuah sekolah musik. Kisahnya mainstream ala drakor, cinta segitiga, cinta bertepuk sebel…

Penantian Asyiqah

Gambar
Sunyi melingkupi malam. Hanya nyanyian serangga malam sesekali memecah sepi. Dewi Murtasimah yang lebih dikenal dengan Asyiqah, putri kedua dari istri kedua Sunan Ampel, menatap langit malam dalam diam. Hatinya bergemuruh. Apakah gerangan yang membuatnya begitu tak karuan. Hasrat dan buncahan rasa menyatu dalam benaknya. Inikah yang dinamakan cinta? Cinta pada pandangan pertama. Berawal dari tatap mata, getaran itu menjalar lembut menuju ruang hati, hingga akhirnya bersemayam dalam dada. Semakin hari semakin menggeliat. Menyisakan segumpal rindu. Asyiqah tetap asik menatap gemintang di langit malam, sembari menenangkan hatinya yang terus berdentam menahan rindu.
Tepukan lembut di pundak memaksanya menoleh. Sesosok wanita cantik belia tampak tersenyum manis ke arahnya. "Mbak yu..." ucapnya lirih. "Sedang apa kau disini, Dik?" Wanita bermata bulat itu bertanya lembut pada Asyiqah, adik perempuannya. "Sudah jangan melamun. Nanti ku bantu sampaikan keinginanmu pa…

Secinta namun tak Sejoli

Gambar
Deras hujan kembali mengguyur kota kami. Gelegar guntur bersahutan, menyuarakan ketakutan tak berkesudahan.  Aku bergumul dalam selimut, menutupi seluruh tubuh hingga tak nampak walau sehelai rambutpun. Dalam gelap, lantun doa berderai tanpa jeda. Hembus napasku memburu. Rasa sesak kembali mengahantui.  "Tuhan, mohon ampun," lirihku berucap dalam keputusasaan.  Angin menderu semakin kencang. Menggetarkan jendela kaca yang tertutup rapat.  "tok tok tok..." Sayup kudengar ketukan pintu.  Sebenarnya, aku merasa terlalu lemas untuk sekedar melangkahkan kaki, namun sejumput harapan kembali bangkitkan gairahku. Kuraih gagang pintu.  "Siapa?" tanyaku meraung, sebelum pintu benar-benar kubuka. "Ini aku, Ra..." Suara berat yang khas itu membuatku lega. Kubuka pintu dengan cepat. Segera kulabuhkan tubuh dalam pelukannya. Tangisku memecah, tanganku erat mencengkram punggungnya. Rasa takut membuatku abai dengan rasa sungkan.

"Tenang Ra, jangan takut, …

Menjalin Kawan

Gambar
Mereka menjauhiku. Apa karena penampilanku tidak seglamour teman-temannya yang lain? Atau uangku kurang banyak untuk dapat menyamai gaya hidup mereka?

Sebegitu kerdilkah sebuah nilai pertemanan di mata mereka? Memandang fisik dan materi sebagai ukuran utama. Mengkastakan manusia semena-mena. Yang rupawan berteman dengan yang menawan, yang beruang berkawan dengan hartawan. Tak ada ruang bagi si buruk rupa dan si melarat sepertiku?

Bukankah kawan sejati adalah mereka yang bisa menerimamu apa adanya. Berbagi dalam suka pun duka, menyemangati disaat terluka, menasehati tatkala terlupa, memeluk erat ketika ujian terasa berat. Bukan hanya mendekat disaat ada maunya saja, mengambil untung atas nama pertemanan, namun enggan menanggung derita demi sebuah jalinan kawan.

Aku kecewa? Mungkin saja. Wajar bukan pilu menyerta ketika apa yang kita harapkan tak mewujud nyata? Namun aku tak menyesalinya. Bagiku, seorang kawan sejati tak bersyarat. Jika di awal saja mereka menuntut kita untuk setara den…

Tiga sekawan: Misi Penyelamatan Bumi

Gambar
Langit tampak suram. Tak ada awan berarak. Hanya gelap. Windi mendengus sebal. Tatapannya tak beranjak dari gulungan kabut hitam yang menjarak, membuat pandangannya hanya selebar bentangan tangan. Selebihnya gelap.
Gadis bermata bulat itu menerawang dalam kenangan yang kembali berloncatan dalam ingatan. Hatinya sedih sekaligus marah atas semua kejahatan yang menimpa kotanya. 
"Pfuuuh..." hembusan keras nafasnya seketika mengembalikan kesadaran.  Dilihatnya pergelangan tangan, seketika layar putih muncul begitu saja. Disentuhnya layar sembarang, tiba-tiba layar berganti warna hitam dengan berbagai simbol berderet membentuk lingkaran. Disentuhnya simbol bergambar jam. 
Tampak angka digital 10.00, menandakan waktu telah berdetak begitu lesat sejak ia menunggu disini. Satu jam. Dan situasi ini membuatnya semakin kesal. 
Menunggu dan sendirian. Sungguh situasi yang sangat menjengkelkan. Terlebih di tempat ia kini berdiri, situasi sangatlah tidak menyenangkan. Sunyi dan mencekam.…