Search

Selasa, 18 September 2018

Puisi Hati Geova

Chapter 1

Sumber: pixbay

"Atas apa yang terendap di relung jiwa.
Kini ia hanya berdiam tanpa nyawa.
Bergelung dalam prasangka.
Bergelut bengis tanpa bahasa.
Dan yang tertinggal hanyalah sesal.
Yang mengganjal.
Dalam lubuk terjal.
Dengan berjuta aral."

Ku tutup buku dengan lesu. Entah mengapa, 
aku selalu suka puisi, lantunan kata yang terangkai indah dan mengena. Membacanya kerap membuatku terhanyut. Seolah bait demi bait mewakili buncahan rasa dalam dada,  membiusku masuk kedalam cerita. 
Mungkin  bagi sebagian orang, puisi hanyalah sebatas kata yang terangkai sekehedak hati si penulis, yang terkadang sangat absurd dan tak mudah dipahami. Namun bagiku, puisi adalah bahasa jiwa yang kerap menorehkan kesan mendalam selepas membacanya, seabsurd apapun itu. 

Tak sedikit orang yang kemudian dekat denganku berjengit, setelah tahu bagaimana peliknya hubungan emosional antara aku dan puisi. Mereka akhirnya
menganggapku aneh, mungkin. Biarlah.
Toh sekeras apapun mereka 'menasehati', nyatanya aku tetap tak bisa berpaling dari bait puisi yang menghanyutkan rasa.

Siang ini, seperti biasa, aku hanya bergulung dalam pikiranku sendiri. Membaca ulang koleksi buku puisi, mencoba menghempas segala prasangka yang sempat mencabik bilik hati. Aku yang tak pernah menghiraukan ucapan setajam sembilu sekalipun, entah mengapa, kini getar emosi merobek logika, kata keji seolah menghujam, terngiang menderu tanpa henti di labirin pikiranku.

"Aargh!"
Ku hempas buku dengan keras. Aku kesal. Sangat kesal. Tak pernah rasanya sekesal ini.
Kubaringkan diri, menutup mata, menghirup udara panjang, menghembus kembali dengan perlahan.
"Wahai hati, tenanglah," lirihku kemudian.


*********

Rania Geova Sahara. Penyuka puisi yang tak pandai menulis puisi. Ia memang tak berbakat. Puisi bukanlah passionnya. Namun membaca puisi selalu membuat hatinya seolah tergelitik. Entah rasa apa yang mencecap jiwanya. Otaknya tak mampu mencerna rasa dan getar yang menelusup dalam kalbu menjadi sebentuk kalimat sempurna. 
Ia bukanlah pecinta puisi dan prosa yang terobsesi memiliki buku puisi para pujangga legendaris di seluruh dunia. Buku-buku koleksinya pun hanya sebatas buku puisi karya penulis lokal yang baru menetas. Tak ada kecenderungan mencintai jenis puisi tertentu. Dan ia tak tahu apapun tentang puisi. Baiklah, katakan saja ia sekedar penikmat puisi yang mampu melebur ke dalam setiap kata yang tersusun di dalamnya.


#komunitasonedayonepost
#odop_6
#fiksi


Senin, 17 September 2018

Tantangan ODOP 2

Cerita 2

Sumber: pixbay

Sudah pukul satu siang, saat kulihat jam di pergelangan tangan. Artinya sudah lewat dua jam kau duduk di hadapanku tanpa sepatah katapun. Hanya asyik mengaduk kopi hitam legam dengan aroma menyengat di atas meja. 
Pengunjung kafe semakin riuh, pertanda jam makan siang telah tiba. Namun kau tetap bergeming. Tak terpengaruh sedikitpun dengan suasana kafe yang kini meramai. 
"Gak diminum?" tanyaku memecah kebisuan.
Kau hanya mengulum senyum sebagai jawaban.
"Sayang tahu udah mahal-mahal gak diminum. Mubazir." selorohku mencoba mencairkan suasana.
Tawa renyahmu berderai. 
"Kamu mau?" cangkir putih beraroma kopi kini berada tepat dihadapanku.
Ah, sungguh, hanya senyum ini yang ingin ku tatap sedari tadi. 
"Beneran?!"
"Coba aja."
"Pahit gak?"
"Pahitnya tidak sebanding dengan aroma magik yang akan kau kenang sepanjang hidupmu ketika kau cecap di lidah dengan sepenuh rasa." Rentetan kata kembali meluncur dengan cepat, kuat dan penuh kharisma. Aku senang. Artinya kamu sudah kembali menjadi dirimu lagi. 
"Gak ah! Aku gak suka pahit. Hidupku udah cukup pahit, gak perlu ditambah kopi pahit. Hehe."
"Hahaha."
"Kamu udah baikan?"
"Emang aku sakit?"
"Suasana hatimu. Tadi kan mukamu ditekuk terus. Kayak baju kusut."
"Makasih ya." Ketulusan kurasakan bergetar dalam ucapmu.
"Untuk apa?"
"Untuk terlahir sebagai wanita terindah dalam hidupku." Senyummu kembali merekah.
Ah, aku semakin terhanyut. Kau, mungkin tak sempurna, namun saat bersamamu, aku selalu merasa istimewa. Bukankah seharusnya aku yang berterimakasih padamu?! Sudahlah. Aku tahu, kau tak mengharapkan itu. Karena ketika bersama, kita selalu saling menguatkan tanpa perlu penjelasan. Itu saja sudah cukup. 
"Pulang yuk!" Suara itu memecah lamunanku.
"Kopinya?"
"Hahaha."
Dan akupun mengerti mengapa kita tercipta untuk selalu bersama.


#onedayonepost
#odopbatch6


#tantanganODOP2
#fiksi

Tantangan ODOP 2

Cerita 1

Sumber: pixbay

Senja merekah merah melatari tempat kita termangu menatap langit. Genggam tanganmu erat mengait, seakan ada gejolak disana yang ingin segera kau bagi. Aku menunggu dalam diam, meski degup jantungku tak henti bertalu semakin kencang. 
Namun kau tetap bergeming. Khusuk menatap langit senja yang perlahan memudar. Berganti gemintang yang berkelip penuh pesona. 

"Maaf", katamu. 
Aku mendongak, menatap lamat wajahmu yang bermuram durja. Genggamanmu semakin kuat. Tak ada kata yang sanggup ku ucap sebagai jawaban. Hanya sepi. 

Andai saja aku bisa membaca pikiranmu, mungkin tak akan seberat ini apa yang kau rasa. Sayangnya, aku tak cukup pandai membaca pikiran. 

"Sudah malam. Kita balik?" genggamanmu melonggar, namun kehangatannya tak serta merta memudar.
Kuanggukan kepala sebagai jawaban.
Senyummu mengembang, seolah segala beban yang sempat bercokol dalam dadamu sekejap tercerabut. Aku tak mengerti, bagaimana bisa gelayut kesedihan berganti dengan semudah itu. 
"Aku senang lihat mukamu balik lagi." Kataku sejurus kemudian.
Tawa renyah memburai seketika. Kau usap puncak kepalaku, mengacak rambutnya dengan sembarang. 
"Terimakasih".
Hanya itu. Namun senyum merekah yang mengiringinya cukup membuatku merasa lega. 
"Yuk balik!" ku tarik tanganya dengan penuh semangat. 
Gemintang langit malam ini terlihat begitu indah. Aku bahagia, tanpa syarat, saat bersamamu. 


#onedayonepost
#odopbatch6
#tantanganODOP2
#fiksi

Minggu, 16 September 2018

Serupa Tak Seirama

Kau merasa paling benar
Tanpa mau mendengar
Kau merasa paling soleh
Tanpa mau menoleh
Kau mengaku manusia terdidik
Namun kerap menghardik

Mungkin aku pun tak jauh berbeda
Berupaya membuatmu terlihat tak berdaya
Bukan sekedar suka tak suka
Hanya luka terlanjur menganga
Tak mampu rasa kembali mereda
Walau hati sungguh tak menginginkannya

Biarlah kau begitu saja
Tak usah hirau dan seru sapa
Ketika hati kita tak lagi seirama
Kau yang penuh murka
Dan aku yang bersemai luka
Biarlah hening tetap tegak menjeda 


#komunitasonedayonepost
#odop_6